Pada Jumat (15/12) malam, gempa bumi berkekuatan 6,9 Skala Richter (SR) menggoyang kawasan pesisir selatan Pulau Jawa. 

Pascagempa, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami yang membuat panik. Namun, berselang dua jam lebih, BMKG mencabut peringatan tsunami.

Semenjak tsunami besar 26 Desember 2004 yang menerjang Aceh, bencana ini seolah jadi "monster" yang menakutkan. 

Padahal Indonesia adalah negara yang sudah akrab dengan tsunami. Setidaknya semenjak 1964 sudah terjadi 52 tsunami di seluruh dunia, delapan di antaranya menerjang wilayah Indonesia. 

titik_pusat_gempa_bumi.png

Tsunami, memang bencana alam yang mematikan. Pada 2004 setidaknya ada 100 ribu orang Indonesia meregang nyawa karena tsunami di Aceh. Besarnya dampak tsunami secara materi dan non materi, membuat antisipasi tsunami dengan peringatan dini tsunami sangat penting.

Gempa bumi menjadi pemicu utama terjadi tsunami selain letusan gunung api. Upaya mendeteksi tsunami menjadi bagian kegiatan pendeteksian gempa. Mulyono Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG mengatakan secara umum, mendeteksi tsunami di Indonesia, menggunakan alat-alat yang sama untuk mendeteksi gempa.

“Tsunami ini kan bukan sesuatu yang berdiri sendiri, ini terjadi karena dampak lanjutan terjadi gempa bumi," terang Mulyono kepada Tirto.

Untuk mendeteksi gempa bumi dan tsunami, BMKG memiliki 33 stasiun geofisika di seluruh Indonesia. Selain itu, BMKG juga memiliki 285 alat untuk memonitor gempa antara lain seismometer.

"Seismometer pada prinsipnya (digunakan untuk) mengukur atau memonitor getaran Bumi,” kata Mulyono.

Alat seperti seismometer dipasang dengan sebaran yang merata. Ia berguna untuk mendeteksi di mana titik gempa berasal. Seismometer yang jauh dari titik gempa, mendeteksi getaran belakangan. Sedangkan alat seismograf disebar lebih dekat dengan kawasan yang berpotensi gempa dan mendeteksi lebih dahulu.

"Dengan selisih waktu masing-masing alat itu akan ketahuan pusatnya di mana,” terang Mulyono. 

Mulyono mencontohkan bila ada gempa di atas 6,5 Skala Richter, dengan pusat gempa dengan kedalaman kurang dari 70 km, dan terjadi di laut, maka tipikal gempa semacam ini dimasukkan dalam kategori potensi terjadi tsunami. Sehingga diteruskan sebagai peringatan potensi tsunami.

Ia menegaskan alat-alat yang dimiliki BMKG sudah mencukupi untuk melakukan pendeteksian gempa maupun potensi tsunami. Menurutnya, tak semua wilayah Indonesia berpotensi tinggi terhadap gempa.

“Sepanjang pantai Barat Sumatera ke Selatan, sepanjang pantai Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, kemudian sepanjang pantai Utara Papua, ini merupakan daerah-daerah yang sering gempa Bumi," katanya.

dart__noaa.jpg


Secara sederhana, sistem pendeteksian tsunami di Indonesia tidak memakai perangkat khusus. Sistem pendeteksian yang dilakukan merupakan kelanjutan sistem pendeteksian gempa yang dimiliki BMKG.

“Kita memonitor gempa buminya, dengan melihat parameter-parameter tadi, terjadi di mana, kedalaman di mana, intensitas kekuatan berapa, di laut atau di darat. Oh ini tsunami,” kata Mulyono.


Pendeteksi Tsunami di Laut

The Ocean-Based Tsunami Detection System atau akrab disapa Deep-Ocean Assessment and Reporting of Tsunami (DART) merupakan salah satu sistem khusus pendeteksi tsunami yang ditempatkan di lautan.

Sistem ini menempatkan perangkat pelampung khusus atau Deep-Ocean Tsunami Detection Buoys di tengah lautan. Perangkat khusus tersebut bertugas untuk mendeteksi perubahan level permukaan air laut.

DART kali pertama digagas pada 2001 oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), AS. Kemudian NOAA melakukan lisensi kepada seluruh negara. 

DART muncul pertama kali dalam bentuk prototipe pada Oktober 2003. Pada kemunculan pertamanya, DART ditempatkan di 6 titik, yakni di Alaska, Oregon, dan di beberapa lokasi dekat dengan garis khatulistiwa. 

Pada awal mula kemunculan, alat khusus pendeteksi tsunami itu sukses mendeteksi terjadinya tsunami di Chile dan Peru, Amerika Selatan.

Pada 2004, selepas tsunami menerjang Indonesia dan kawasan lainnya di Samudera Hindia, DART mengalami pembaruan atau akrab disapa DART II. Awalnya DART hanya 6 titik, NOAA kemudian memperluas sebarannya menjadi 36 titik pada 2008.

Perangkat DART atau sistem Buoy memiliki dua komponen utama. Sensor tekanan yang ditempatkan di dasar laut dan perangkat yang mengapung di lautan. Sensor tekanan, mendeteksi segala perubahan yang terdeteksi dan mentransfer pada perangkat yang mengapung memanfaatkan telemetri akustik. 

Perangkat yang mengapung itu kemudian mentransmisikan data melalui satelit pada pusat peringatan tsunami yang dimiliki masing-masing negara.

DART memiliki syarat khusus agar bisa beroperasi, tidak boleh terlalu jauh dari titik gempa dan tidak boleh pula terlalu dekat. Selain itu, komponen yang dipasang di dasar laut, harus ditempatkan di kedalaman lebih dari 3.000 meter. Syarat-syarat ini dilakukan guna menghindari adanya interferensi gelombang, misalnya gelombang laut biasa.

Secara umum, tsunami terjadi dalam rentang 15-20 menit setelah gempa Bumi terjadi. Dalam kondisi normal, DART bekerja mengirimkan data tiap 15 menit sekali. 

Namun, bila DART mendeteksi adanya aktivitas seismik yang tidak normal, ia akan secara otomatis bekerja dalam mode “event.” Mode yang memungkinkan DART mengirimkan data tiap satu menit sekali. Bila dalam 4 jam kemudian tidak ada kasus berarti, DART kembali ke kondisi normal.

Semenjak 2010, terdapat 40 tsunami yang sukses dideteksi oleh perangkat-perangkat tersebut. Sayangnya, meskipun perangkat DART menjanjikan, merujuk apa yang diungkap Mulyono, di Indonesia terutama BMKG tidak memiliki alat ini.

“BMKG tidak punya Buoys (DART), dulu pernah BPPT (punya),” kata Mulyono.

Apa yang dikatakan Mulyono klop dengan yang pernah diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo P Nugroho. Sutopo pernah mengatakan banyak alat sensor gelombang tsunami di lautan Indonesia rusak. Dari 21 sensor (buoy) tsunami di lautan, sebanyak delapan unit dari Indonesia, 10 unit dari Jerman 10 unit, satu unit dari Malaysia, dan dua unit dari Amerika Serikat, semuanya sudah tidak ada yang beroperasi. 

"Disebabkan vandalisme dan ketiadaan biaya operasi serta pemeliharaan di BPPT," kata Sutopo dikutip dari Antara, Maret 2016.

Faktor biaya pemeliharaan dan operasi menyebabkan buoy tidak berfungsi. Dampaknya menyulitkan untuk memastikan apakah tsunami benar terjadi di lautan atau tidak.

Meskipun buoy atau DART memiliki kemampuan mendeteksi tsunami lebih dekat di lautan, sebuah laporan yang dikeluarkan oleh National Research Council of the National Academy of Sciences, dan diberitakan MIT Technology Review, mengatakan bahwa DART tidak memiliki cukup keandalan untuk mendeteksi tsunami. Dari 36 titik stasiun yang ada pada 2008 lalu, hanya tersisa 60 persen setelah setahun dipasang. 

Ini artinya, keandalan atau kekuatan perangkat tersebut, dipertanyakan. Merujuk data yang dipaparkan National Bata Bouy Center, kini terdapat 1.353 Bouy di seluruh dunia termasuk dua titik yang ditempatkan di Samudera Hindia, berbatasan antara Indonesia dan Australia. 

Sayangnya, dari jumlah itu hanya 912 unit yang masih aktif mengirimkan data. Apalagi, DART bukanlah barang murah. Satu unit alatnya memerlukan biaya hingga $25 ribu.

Selain itu, merujuk laporan tersebut, sistem pendeteksian tsunami yang menggunakan DART, tak memungkinkan pusat peringatan tsunami memiliki waktu berlebih menginformasikan data yang diterima. Ini butuh waktu hingga 7 menit bagi para peneliti di Pusat Peringatan tsunami menganalisa data yang dikirimkan oleh DART.


Namun, apapun kelemahan alat buatan manusia ini, setidaknya keberadaannya akan membantu daripada tak ada sama sekali. Manusia memang tak bisa meramal dengan persis sebuah bencana kapan dan di mana terjadi termasuk tsunami yang mematikan.


Sumber: tirto.id